fbpx

Kehidupan Mahasiswa Indonesia Di Singapura Saat Virus Corona

source image : https://elearningindustry.com/how-online-learning-powerful-recourse-covid-19-online-tutoring

Jeremiah Juan putra merupakan mahasiswa Indonesia yang kini belajar di luar negeri tepatnya di  Singapura. Setelah lulus dari bangku sekolah menengah atas dia mendaftarkan dirinya kuliah di luar negeri. 

Jeremiah mendaftar di universitas ternama di Singapura yaitu University of Technologi and Desain (SUTD). Menurut Jeremiah kehidupan di Singapura memang dikenal dengan negara yang sangat mahal. 

Sehingga saat di sana Jeremi mau tidak mau harus menghemat pengeluaran selama berada di negara tetangga Indonesia tersebut. Bahkan untuk makan sehari-hari saja Jeremi memilih untuk pergi ke kantin kampus atau memasak makanan sendiri. 

Jeremi beranggapan kalau makanan yang ia beli di kantin ataupun membuat makanan sendiri di penginapan jauh lebih murah daripada harus pergi ke restoran.

Selain itu, untuk berangkat ke kampus Jeremi selalu memilih angkutan umum dibandingkan menggunakan taksi. Karena menurutnya taksi disana sangat mahal daripada di Indonesia.

Banyak yang beranggapan bahwa orang di Singapura sangatlah individual dan tidak seperti negara Asia lainnya. Tapi, anggapan itu salah karena di negara ini Jeremi mempunyai banyak teman dan seringkali berkumpul bersama sambil menghabiskan waktu ketika waktu longgar. Pelajar di Singapura kebanyakan lebih mementingkan pendidikan mereka sebagai investasi masa depan. Sehingga kehidupan pelajar disana lebih terjamin. 

image source : https://news.furman.edu/2020/02/10/study-abroad-and-coronavirus/

Awal Datangnya Corona di Singapura

Namun, kehidupan warga Singapura belakangan ini berubah. Adanya virus Corona membuat semua aktivitas baik pendidikan maupun perekonomian mulai terganggu. Jeremi mengatakan bahwa orang Indonesia yang ada di Singapura saat terjadinya virus ini jauh lebih panik dibandingkan warga Singapura itu sendiri. 

Sebagian besar WNI yang ada di Singapura lebih mencari aman dan menutup diri sampai keadaan aman. Pada minggu-minggu awal terjadinya covid19  ini. Tentunya banyak WNI maupun warga Singapura berbondong-bondong menyetok kebutuhan seperti masker dan obat-obatan lainnya. 

Jeremi bahkan melihat banyak warga negara Indonesia yang membawa persediaan dari Indonesia hanya untuk bertahan hidup di Singapura untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Puncak Kepanikan Corona

Puncak Kepanikan terjadi saat pemerintah Singapura memberikan status Doscorn atau pengkajian terhadap wabah penyakit diubah dari tanda kuning menjadi oranye.

Peringatan ini merupakan paling berbahaya di Singapura. Hal ini membuat Jeremia dan teman-teman mengalami panic buying. Sehingga hampir semua warga Singapura menyerbu supermarket untuk kebutuhan pokok sehari-hari mereka. Termasuk para WNI yang sedang bekerja atau belajar disana juga seakan ikut larut dalam panic buying ini.

image source : https://www.stripes.com/lifestyle/what-travelers-should-know-about-face-masks-amid-growing-coronavirus-concerns-1.617525

Cukup banyak perubahan yang dialami oleh Jeremi saat terjadi covid19 ini. Dia menuturkan bahwa setiap harinya bila akan keluar penginapan harus menggunakan masker. Selain itu, Jeremi juga tidak lupa membawa hand sanitizer kemanapun. 

Pihak kampus Jeremi  melakukan tindakan preventif untuk para mahasiswa. Dimana kampus yang Jeremi berkuliah menetapkan bagi seluruh staff, profesor, dan siswa yang baru datang dari China diwajibkan untuk absen dari kegiatan universitas mereka selama 14 hari dan dilarang total untuk datang ke universitas.

 

Itulah sedikit cerita dari Jeremi Juan putra yang tengah kuliah di Singapura ditengah Wabah Covid19 ini. Jeremi begitu tampak begitu tetap semangat menimba ilmu di negara Singapura tersebut.

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on vk
VK
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Menarik Lainnya

Comments

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    ×